26
Mar
10

quo vadis pisau Indonesia?


I have a dream. Begitu kata Martin Luther King.

Gua juga punya mimpi terhadap pisau Indonesia. Artinya pisau yang dibuat oleh tangan orang Indonesia, dijual oleh orang Indonesia, dibeli oleh orang Indonesia, dan dipakai oleh orang Indonesia atau siapapun di dunia ini. Pisau sebagai sebuah tools yang bukan hanya sebagai sebuah karya seni, tapi juga sebuah alat fungsional yang dapat meringankan tugas manusia sehari-hari.

Saat ini sedangkan pisau dapur yang biasa dipake di rumah kita atau di restoran masih didominasi pisau buatan luar yang relatif murah tapi juga berkualitas rendah. Karena nggak ada juga barang berkualitas yang murah. Ini baru bicara soal pisau dapur.

Belasan tahun ke depan gua punya mimpi untuk bisa pegang hasil karya orang Indonesia yang mengerjakan sendiri sebuah pisau dari awal sampai finishing. Sebuah karya yang bisa dipertanggung jawabkan secara kualitas dan secara moral. Kenapa gua bilang secara moral? Karena gua pernah lihat pisau dijual dengan spesifikasi baja A tapi ternyata adalah baja B yang nggak berkualitas. Gua pernah ngalami pesan pisau dengan spesifik minta baja X tapi kemudian diberi baja Y yang propertinya berbeda.

Belum lagi kalau kita bicara kualitas pengerjaan yang belum memuaskan. Finishing yang kasar, dimensi yang tidak sesuai pesanan, penggunaan material yang jauh di bawah standar semisal lem (perekat), heat treatment yang sekenanya atau malah sama sekali tidak dijalankan, pelayanan yang nggak profesional, penangan material yang tidak semestinya, informasi yang nggak tepat ke pelanggan, dst.

Kelihatannya tulisan gua seperti keluhan, tapi kalau sumber-sumber mas lahnya ditanggulangi dan diperhitungkan dari awal, maka daftar keluhan pasti akan berkurang drastis. Kecenderungannya adalah pembuatan pisau masih menjadi hanya salah satu cara untuk mendatangkan uang. Membuat pisau belum menjadi panggilan hati. Pengerjaan produksi pisau juga belum didasari oleh keinginan untuk memberikan yang terbaik dari diri pembuatnya.

Membuat pisau secara profesional dan sepenuh hati masih dianggap cara yang bodoh untuk berkarir. Kekayaan materi masih menjadi tolok ukur kesuksesan karir seseorang. Profesi pembuat pisau kadang masih dianggap kerja tukang. Dan dalam bahasa Indonesia sendiri kata “tukang” juga masih berkonotasi profesi rendahan, dan disamakan dengan tukang becak, tukang batu, tukang parkir, tukang pukul, dll. Padahal di mana dibutuhkan keahlian khusus untuk mengerjakannya, maka profesi tersebut nggak bisa dipandang ringan. Lihatlah di bagian dunia lain sana di mana profesi carpenter, machinist, gardener, welder, dll dihargai dan dihormati masyarakatnya.

Gua punya mimpi pisau Indonesia jadi tuan rumah di negerinya sendiri.


1 Response to “quo vadis pisau Indonesia?”


  1. 1 Dadan Hamdani
    March 28, 2010 at 3:15 PM

    Mantab, bos


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


March 2010
M T W T F S S
« Feb   Apr »
1234567
891011121314
15161718192021
22232425262728
293031  

Enter your email address to subscribe to this blog and receive notifications of new posts by email.

Join 27 other followers

eye candy

Barlow-1

Barlow-2

Barlow-3

Tim Briiton Backlock

Buck 110's

Buck 110 Damascus

Mammoth Ivory Barlow

More Photos

Categories


%d bloggers like this: