20
Apr
10

Ambiguity in a beauty.


Beberapa hari lalu habis nonton film sama istri. Di film itu Denzel Washington pake parang murahan buatan China. Memang selalu menarik melihat bagaimana pisau dipakai dalam sebuah film. Gua pribadi selalu berusaha untuk mengenali pisau yang digunakan dalam adegan tertentu.

Memang penggunaan pisau dalam film kadang bersifat mendua. Film seringkali memberi konotasi negatif terhadap pisau. Orang jahat yang sadis selalu ditonjolkan menggunakan pisau sebagai alat yang sadis dan berdarah dingin. Lihat aja bagaimana penjahat aneh model Jason dalam film Freddy vs Jason menggunakan parang panjangnya yang kejam banget. Atau Dr. Hannibal Lecter membunuh polisi menggunakan Spyderco dalam film Silence of the Lamb. Tokoh2 ini memberikan kesan yang sangat negatif terhadap pisau. Dan masih banyak yang lain tentunya.

Tapi itulah masyarakat, kadang lebih mudah terpengaruh dengan hal yang negatif daripada hal yang positif. Kerusuhan di Koja beberapa hari lalu juga menambah daftar panjang konotasi negatif terhadap pedang dan pisau. Malah kehadiran benda2 itu dijadikan justifikasi oleh pihak otoritas untuk melakukan tindakan kekerasan terhadap masyarakat sipil.

Tapi sekali lagi yang harus dijadikan pokok permasalahannya adalah unsur manusianya. Menjadikan alat sebagai kambing hitam adalah tindakan tidak cerdas. Dalam kenyataan sesungguhnya justru pisau dapur yang paling banyak dipakai sebagai alat kejahatan. Wajar saja karena benda yang satu ini hampir bisa dipastikan ada di dalam dapur di rumah mana saja, mulai dari rumah orang kaya di Pondok Indah sampai rumah atap langit milik gembel di pinggir kali.

Kadang sifat ambiguitas (kemenduaan) pisau inilah yang membawa pemilik pisau senantiasa ada di persimpangan jalan antara memiliki alat/perkakas sekaligus sebagai sebuah pilihan senjata. Gua tahu beberapa orang yang sama sekali gak berani bawa pisau padahal mereka adalah hobbyist pisau. Tapi gua juga pernah bilang bahwa membeli pisau, menjual pisau, mempunyai pisau, dan membawa pisau, adalah hal yang berbeda satu sama lain.

Gua pikir orang yang nggak berani bawa pisau punya alasannya sendiri melihat kapasitas dirinya. Jadi nggak ada salahnya juga. Tapi di sisi lain seram juga melihat orang yang alasannya membawa pisau adalah semata-mata untuk tujuan self defense ataupun untuk berkelahi. Kubu2 ini akan tetap ada sampai kapanpun. Tapi gua sendiri punya idealisme, bahwa lima tahun dari sekarang paling nggak pandangan negatif masyarakat terhadap pisau semakin berkurang.


1 Response to “Ambiguity in a beauty.”


  1. 1 ali
    May 22, 2010 at 7:21 AM

    salam kenal,

    bener juga wak, kadang pikiran kita terpengaruh sikap negatif dari lingkungan tentang pisau. mungkin saya sendiri suka membawa pisau sebagai EDC. Dari tampilan pisau yang di bawa ada kesan negatif. kesan bawa victorinox pasti beda dengan bawa pisau lain yang tampilannya lebih sangar. padahal benda itu sama saja, bergantung pemakainya.

    Mudah-mudah wak pandangan negatif masyarakat bisa berkurang.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


April 2010
M T W T F S S
« Mar   May »
 1234
567891011
12131415161718
19202122232425
2627282930  

Enter your email address to subscribe to this blog and receive notifications of new posts by email.

Join 27 other followers

eye candy

Barlow-1

Barlow-2

Barlow-3

Tim Briiton Backlock

Buck 110's

Buck 110 Damascus

Mammoth Ivory Barlow

More Photos

Categories


%d bloggers like this: