10
Jun
10

Gua suka pisau lipat, tapi…..


Gua salah satu orang yang percaya dengan pernyataan, bahwa pisau tidak ditakdirkan untuk ada dalam keadaan terlipat. Gua seneng dengan pisau lipat. Kecil, praktis, mudah dibawa, mudah disimpan, kompleks pembuatannya, dst. Tapi pisau lipat juga memiliki kekurangan bawaan secara desain seperti perlunya sambungan antara handle dan blade, perlunya lobang untuk memasukkan pin agar handle bisa dipasang, sistem locking yang berbeda model dan berbeda kekuatan, serta berbeda pula sistem pelepasannya, perlunya ketelitian yang sangat tinggi untuk menghasilkan produk yang baik dari segi assembling, dll.

Bagaimanapun sebuah pisau lipat dibangun dengan sedemikian uletnya, tetap saja dia merupakan gabungan dari dua buah bagian yang terpisah yang hanya disatukan oleh sebuah pivot pin. Pisau lipat juga membutuhkan perawatan yang lebih ekstra ketimbang fix blade. Biarpun sebuah pisau lipat dibuat dengan open constrution, namun tetap ada bagian2 yang tersembunyi dan sulit dijangkau untuk dibersihkan atau dirawat. Jangan lupa nggak semua pisau lipat bisa dibongkar atau dibongkar-pasang dengan mudah.

Pisau lipat adalah salah satu cermin kemajuan teknologi yang makin canggih. Belum lagi kalau kita bicara tentang pisau lipat automatic dan berbagai variannya yang semakin keren aja. Tapi tetap aja gua merasa bahwa pisau lipat adalah sebuah kompromi. Kita mengompromikan kebutuhan akan pisau yang tangguh dengan kesulitannya membawa fix blade, sehingga pisau lipat adalah jalan tengah yang terbaik. Kalau kita tinggal dalam setting perkotaan maka membawa pisau lipat sebagai EDC adalah pilihan yang terbaik, walaupun nggak ada salahnya juga memilih fix blade yang pas.

Seberapapun kuatnya sebuah pisau lipat dibuat tetap saja gua merasa bahwa tugasnya terbatas pada tugas2 yang ringan sampai medium. Artinya kita akan tetap keberatan membelah balok dengan pisau lipat sekaliber Strider atau Sebenza meskipun kita menggunakan kayu sebagai alat pemukulnya. Orang juga akan memandangnya sebagai abuse. Tapi tidak demikian halnya kalau kita melakukan hal yang sama dengan fix blade, meskipun mungkin tebal bladenya hanya 3mm dan panjang bladenya hanya 3″. Dan dalam kasus ini, maka pisau lipat kemungkinan terbesar akan mengalami failure duluan meski fix blade tetap bisa juga gagal.

Buat gua pribadi di saat kondisi terburuk dalam sebuah situasi genting, maka fix blade adalah pilihan ideal. Dan dari sisi lain sebuah pisau lipat yang berusia tua juga akan lebih banyak mengalami masalah ketimbang fix blade yang sama tuanya atau bahkan lebih tua usianya. Ada banyak bagian yang bergerak pada sebuah pisau lipat dan sesuatu yang bergerak atau mengalami pergerakan pasti akan mengalami wear atau aus. Dan wear akan mengakibatkan dis-presisi yang pada gilirannya akan menghasilkan failure.

Gua suka pisau lipat, tapi fix blade punya tempat tersendiri daam hati gua yang gak akan digeser oleh pisau lipat secanggih apapun. Saat ketangguhan harus diandalkan maka fix blade adalah jawaban mutlak.


4 Responses to “Gua suka pisau lipat, tapi…..”


  1. 1 ali
    June 13, 2010 at 10:21 AM

    Tulisan yang bagus. Membuka wawasan tentang pisau.

    Wak, gw inget tulisan lo tentang “pisau di pergunakan sebagai mana mestinya sesuai takdirnya” ( kira-kira seperti itu, maaf kalo salah). nah kebutuhan penggunaan jenis pisau juga bergantung untuk apa pisau itu di gunakan. pisau lipat mungkin di design untuk kebutuhan tertentu. Gw sih setuju bahwa folder dan fix blade dua model yang tidak bisa di bandingkan karena memang tujuan design nya dan penggunaannya pasti berbeda.

    semahal dan sebagus apapun pisau lipat tidak bisa menggantikan fungsi golok tebas. begitu pula sebaliknya sekuat dan sehandal apapun bowie knife tidak mungkin sepraktis pisau lipat. tapi kita sebagi pengguna yang akan lebih bijak memilih dengan menggunakan apa yang lebih baik untuk pekerjaan kita.

  2. 2 whoiskliwon
    June 10, 2010 at 11:45 AM

    saya dari kemaren udah kepengen bawa izula om ucok, cuman saya pikir udah bawa MT kebutuhan udah tercukupi.tapi tidak menutup kemungkinan izula saya jadikan backup aja ( soalnya punya fix blade cuman izula dowang ) hehehe

  3. 3 Juan
    June 10, 2010 at 7:57 AM

    Abang,

    Tulisan yang singkat namun menarik….
    Saya sendiri menjatuhkan pilihan ke folding dan multitools karena alasan kompak dan praktis…
    Tentu saja soal integritas struktural pisau kalah dengan fixed blade.

    Hal lain karena saya lebih banyak kerja di daerah perkotaan, jarang sekali sampai ke off the beaten path. I’m sure someday I’ll be drawn into fixed blade and when it happens I hope you don’t mind giving out advices…

  4. June 10, 2010 at 1:37 AM

    Can’t agree more Wak, pisau lipat menurut saya hanya menang di kemudahan dalam membawa/menyimpan, dan teknologi (teknologi lipat maksudnya). Dari segi penggunaan, tidak berani untuk “main hajar”.

    Hanya saja kalau fixed blade kok rasanya belum pernah melihat yang low profile dan mudah dibawa kemana-mana, atau mungkin karena pengetahuan saya tentang pisau masih sangat minim.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


June 2010
M T W T F S S
« May   Jul »
 123456
78910111213
14151617181920
21222324252627
282930  

Enter your email address to subscribe to this blog and receive notifications of new posts by email.

Join 27 other followers

eye candy

Barlow-1

Barlow-2

Barlow-3

Tim Briiton Backlock

Buck 110's

Buck 110 Damascus

Mammoth Ivory Barlow

More Photos

Categories


%d bloggers like this: