02
Jul
10

It’s all about knowledge and taste


Hari ini baru aja ketemu seorang sahabat, terus ngebahas beberapa pisau yang terlihat di etalase forum. Kita berdua sampai pada kesimpulan yang sama. It’s not our taste.

Pisau sangat bersifat subyektif. Ada bagian2 yang bisa dianggap obyektif seperti kualitas baja dan keseluruhan kualitas pengerjaan. Namun pada akhirnya sebuah pisau hanya indah di mata orang yang menyukainya. Sebab itu gua juga gak pernah anggap enteng selera orang lain karena memang kita kadang menggunakan kacamata yang berbeda untuk memandang sesuatu.

Gua pribadi menemukan kenikmatan tersendiri kalau pisau yang gua suka bisa menunjukkan darma baktinya buat gua. Karena alasan itu gua bawa dan pake sebuah custom slipjoint dibanding slipjoint lain yang menggunakan 3 blade dan harganya 1/3 lebih murah.

Itu artinya kalau gua jadi orang yang banyak uang pun gua masih belum akan beli art knives yang harganya ribuan dollar. Beberapa teman menganalogikan pisau dengan istri. Dalam batas tertentu gua setuju. Dan kalau orang yang sudah beristri akan tahu, bahwa kenikmatan dan keintiman akan terasa kalau kita “pake” istri kita. Sayang banget kalau kenikmtannya kita dapet malah waktu kita cuma mengelus-elus istri sambil nonton tivi. Atau jangan2 ada yang menikmati istrinya dengan mengetahui istrinya masih perawan di simpan dalam lemari besi. Tapi tiap orang punya masing2.

Buat gua pribadi pisau yang berarti adalah pisau yang punya nilai utility. Punya nilai yang berguna kalau dipake. Buat gua pisau bukan investasi. Gua berusaha untuk cari kesempatan supaya pisau gua bisa dipakai dengan wajar dan berguna, baik buat diri gua sendiri maupun buat orang lain.

Harus diakui bahwa tiap orang akan melalui tahap yang berbeda dalam menekuni sebuah hobby. Tapi gua orang yang beranggapan bahwa sebuah hobby sebaiknya dimulai dari bawah. Dalam hal pisau orang harus merasakan dulu punya pisau jelek dan abal2, kemudian meningkat pada pisau yang lebih baik dan begitu seterusnya. Kan di mana2 juga begitu, bahwa yang alamiah seseorang mulai dari bodoh dulu baru jadi makin pinter. Orang mulai dari tidak tahu sampai jadi tahu. Orang yang belajar dari bawah akan lebih bisa menghargai sebuah karya dan orang yang membuat di belakangnya karena mereka bisa melihat bagaimana kemampuan dan ilmu seseorang meningkat terus.

Jadi menurut gua uang bukanlah kata kuncinya. Semua kembali kepada pengetahuan dan selera. Pengetahuan adalah faktor obyektifnya sementara selera adalah faktor subyektifnya.


7 Responses to “It’s all about knowledge and taste”


  1. 1 ali
    July 12, 2010 at 8:12 AM

    Sungguh sangat subyektif. secara pribadi hobby pisau ini di dasari hobby yang lain, karena melihat pisau sebagai tools. karena itu kita selalau mencari pisau yang terbaik. dari segi objektif gw sangat setuju dari pemilihan material, cara pengerjaan, dan perlakuan panas pada material.

    tapi ada beberapa yang subyektif, dari design yang pas untuk kita sebagai tools. kemudahan menggunakan dan lain2. gw punya banyak pisau abal2 yang setalah di pakai dan ternyata tak berguna sekarang hanaya jadi hiasan semata.

  2. 2 Juan
    July 11, 2010 at 4:21 PM

    Abang,

    agak tergugah sekaligus bimbang setelah baca artikel ini.

    jadi, kalau saya suka pisau karena (pertama) penampilannya, kemudian saya turunkan lagi ke masalah material (bahan gagang dan baja) kemudian di-adukan dengan harga (pertimbangan utamanya adalah; Apakah saya mau dan mampu menghabiskan xxx rupiah untuk pisau ini?) – am I in the right track?

    FYI, I enjoy knife that I can use without having to worry about anything (will it be dirty, will it corroded, will it be chipped away). Sejauh ini saya baru punya 1 Opinel Carbon no.7 dengan wish list :

    a. Case knives, paisley handle = keindahan gagangnya!
    b. CRKT Kilbuck, fix blade = gagang bambunya!
    c. Kershaw Echo fix blade = ergonomy dan camo design-nya!
    d. Opinel 1890 = karena sejarah dan filosofi pembuatnya
    e. Opinel S/S blade, premium wood handle = lagi2 karena gagangnya!

    Kenapa banyak yang saya suka karena desain atau keindahan gagangnya? karena saat ini saya belum mendalami soal bahan. jadi, kalau boleh menilai diri sendiri, saya sekedar penikmat pisau…

    Salam,
    Juan

    • July 11, 2010 at 4:29 PM

      Bisa juga dibalik bro dengan lebih dulu menentukan dana yang disiapkan kemudian memilih apa yang terbaik dengan uang segitu. Lama2 budget kita untuk beli pisau juga bakal meningkat kok seiring dengan kecintaan kita terhadap hobby ini. Salam.

      • 4 Juan
        July 11, 2010 at 5:50 PM

        OK Abang….thanks for the advice…

        Oh ya, ada tips tempat cari Case knives nggak? beberapa site menolak mengirim pisau ke Indonesia nih, jadi lumayan menantang. Kalau nitip teman kadang2 yang dibawa suka beda dengan keinginan dan (kadang2) lama….CHEERS!

      • July 11, 2010 at 6:04 PM

        Coba lihat case di http://www.casekniveshq.com. Memang selalu yang jadi masalah besar adanya adanya ketidaksediaan pihak penjual untuk mengirim barangnya ke Indonesia. Tapi biasanya itu berangkat dari ketidaktahuan mereka tentang kondisi kita di sini. Mereka kira kita masih pake cawat, dan makan sesama manusia. Becanda:).

        Kalau dikasih gambaran bahwa kita juga sering terima kiriman pisau dai luar negeri dengan aman. biasanya mereka mau mengerti walaupun memang tanggung jawabnya tetap ada pada kita.

  3. 6 naturalist
    July 10, 2010 at 10:24 PM

    Bro kok makin jarang nulis….

    Pisau emang subyektif, sangat2 subyektif…
    Pisau yang indah dengan bahan eksotis bahkan ampe campuran emas segala kagak mungkin jadi teman sehari2. Tapi emang perlu juga punya sesuai yang “unik”, sebab kembali pada analogi istri tadi. Nggak mungkin kan istri kita sama persis dengan istri orang lain😀

  4. 7 Kuliarang
    July 6, 2010 at 6:22 PM

    😀 ahahaha.. yang ini gw setuju! betul betul betul… kalo gw beli art knives gak ada gunanya dihutan sini konyolnya lagi cuma akan jadi tontonan orang talang sini aja.. tanpa membantu gw dalam bekerja.. jadi kalo gw punya duit lebih.. maka gw akan cukup nambah golok ciwidey atau balikmipih mang ako yg jelas bisa gw pake.. sisanya beli beberapa small folder dan sisanya lagi buat nambah beli kebun sawit bekal pensiun nanti krn gw msh yakin investasi di piso belum tau rumusnya😀
    kalo masalah selera .. mungkin selera gw yg paling norak dan tidak didukung pengetahuan gw akan dunia perpisoan … tp gpp yg penting gw enjoy make piso2 gw.. seburuk apapun piso yg gw pake.. tp itulah nikmat.. kalopun sdh terlanjur ada beberapa yang cuma pinter bertengger dilemari kaca .. biarlah jadi tontonan cucu gw kelak.. agar mereka tau kalo eyangnya dulu seneng berjalan dengan piso2 drpd berjalan dengan istri2😀

    use our blade guy…:)


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


July 2010
M T W T F S S
« Jun   Aug »
 1234
567891011
12131415161718
19202122232425
262728293031  

Enter your email address to subscribe to this blog and receive notifications of new posts by email.

Join 27 other followers

eye candy

Barlow-1

Barlow-2

Barlow-3

Tim Briiton Backlock

Buck 110's

Buck 110 Damascus

Mammoth Ivory Barlow

More Photos

Categories


%d bloggers like this: