06
Aug
10

Traditional folding knives


Kalau elu pernah bawa pisau sebagai EDC (everyday carry) dengan tujuan utility, maka elu akan pernah rasain gimana canggungnya mengeluarkan pisau dari tempat penyimpanannya lalu menggunakannya di depan orang banyak atau di tempat umum.

Kecanggungan ini sebenarnya pertama kali berangkat dari pandangan kita sendiri tentang pisau dan membawa pisau. Jika kita memandang pisau semata-mata sebagai alat yang meringankan banyak pekerjaan manusia maka kita akan lebih tenang menggunakannya. Gua sering ketemu orang yang berdebar-debar membawa pisau lipat kecil waktu mau masuk mall atau bandara.

Konsep2 pisau sebagai senjata taktis membuat pembawanya kadang risih sendiri atau malah ketakutan sendiri saat bakal ketahuan bahwa dia membawa sebuah pisau. Gua pribadi seringkali bawa pisau dari genre taktikal walalupun masih dalam ukuran yang “pantas”. Tapi biasanya itu bukan satu2nya pisau yang gua bawa sehingga kalau gua perlu untuk utility maka gua akan pilih pisau lain semisal Opinel atau slipjoint.

Selain pisau EDC yang “low profile”, maka cara kita mengeluarkan dan menggunakan pisau kita akan sangat menentukan bagaimana pandangan orang terhadap pisau yang kita bawa. Saat membuka Opinel atau slipjoint gua selalu membukanya di bawah meja atau dengan posisi rendah di bawah pinggang. Dan saat pisau akan gua pakai pun maka benda yang mau gua potong yang gua turunin dan bukan pisaunya yang naik, apalagi sampai sebatas dada.

Gua selalu menekankan bahwa kenikmatan membawa pisau bukanlah karena kita mengantongi pisau lipat custom seharga $800, tapi lebih kepada waktu kita bisa merasakan manfaat dari pisau itu sendiri saat kita gunakan. Gua cukup nyaman dengan pisau EDC gua saat ini karena praktis di badan gua nggak merasa sedang mengantongi sesuatu. Secara umum diakui bahwa kita kebanyakan hanya menggunakan porsi 2″ dari panjang bilah pisau kita, sehingga membawa pisau dengan bilah lebih panjang hampir merupakan sebuah pemborosan.

Ini pisau Case Select Tiny Texas Toothpick dengan panjang terlipat hanya 3″ dan panjang terbuka 5,5″. Bajanya ATS-34. Handlenya adalah Mediteranian Blue bone. Gak ada yang serem dari penampilan pisau ini. dan sesuai dengan namanya ukurannya pun memang sangat mungil. Lihatlah perbandingannya dengan kelingking gua. Istri gua langsung minta untuk dia bawa aja. Tapi gua juga tahu dia sering hilangin barang2 kecil makanya belum gua ijinkan bawa yang satu ini.

Gak akan ada orang takut lihat pisau ini dalam keadaan terlipat, dan dalam keadaan terbuka pun gak ada tampilan yang mengancam orang lain. Tidak ada bilah berwarna hitam dengan sedikit gerigi yang seram dan suara yang nyaring saat dia dibuka dengan satu tangan. Slipjoint ini harus dibuka dengan dua tangan dan pelan2. Kemarin sore gua ajarin anak laki2 gua untuk buka dan lipat pisau ini dengan aman. Ngajarinnya kebetulan bukan di rumah tapi di sebuah tempat minum kopi di sebuah mall. Gak ada orang yang perhatiin saking kecilnya pisau tersebut. Anak gua juga exciting banget belajarnya. Pisau non-locking seperti ini mengajarkan penggunanya untuk tetap bersikap low profile dan menggunakan pisau sejenis ini dengan bertanggung jawab.

Dengan benda ini hampir semua keperluan untuk memotong atau mengiris bisa dilakukan dengan baik. Apakah kita atau orang lain akan bersikap sama , jika yang kita keluarkan dari kantong adalah sebuah pisau lipat taktikal yang notabene sangat seram penampilannya. Ngomong2 ini adalah pisau yang luar biasa seksi dan sederhana ditambah baja premium ATS-34, what else you could ask for more. To hell with your tatical knives.


5 Responses to “Traditional folding knives”


  1. 1 widjojono
    March 4, 2011 at 6:56 PM

    hmmmm…… kang Uwak Yth…

    saya no comment, tapi jadi penasaran ini mungkin ada benernya juga,karena “survival” di dunia kerja tentunya beda dengan “survival” di hutan ya kang…very cute folding knife ya, tentunya amat kompeten apalagi dengan dukungan ATS 34 nya… hehehe… ini berarti EDC kang Uwak yah?

    salam Pisau
    Jon

  2. August 6, 2010 at 9:55 PM

    Setuju Wak, pisau sebagai alat/utility seyogyanya memang tidak intimidatif.
    Barusan punya Opinel nomer 8 dan ternyata masih cukup besar ukurannya, jadi mempertimbangkan ukuran 6 atau 7 sebagai EDC.

  3. 4 Juan
    August 6, 2010 at 1:53 PM

    Halo Abang,

    Artikel yang sangat menarik dengan sudut pandang yang menurut saya sangat pribadi sekali. Kebetulan sekali di bidang kerja saya sangat keras mengatur soal berlaku di tengah masyarakat.

    Salah satu yang ditekankan adalah apa yang Anda bawa juga akan mempengaruhi reaksi orang. Misalnya, Anda bicara soal kerjasama dengan pisau nempel terang-terangan di pinggang? NO WAY!!!

    Itulah kenapa saya lebih nyaman membawa multitool atau Opinel yang sederhana saja. Dengan pilihan seperti itu saja masih saja orang-orang memandang dengan tatapan aneh….

    Mungkin saya harus lebih low profile lagi ya, seperti apa yang Abang lakukan pada artikel di atas. Btw, nice toothpick, I never thought it was that tiny (and beautiful of course)

    STAY TRUE, STAY SHARP !

  4. August 6, 2010 at 1:26 PM

    waaaaaaaaaaa……:(
    wak…lo dapet ajah sih yg mungil gini…


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


August 2010
M T W T F S S
« Jul   Sep »
 1
2345678
9101112131415
16171819202122
23242526272829
3031  

Enter your email address to subscribe to this blog and receive notifications of new posts by email.

Join 27 other followers

eye candy

Barlow-1

Barlow-2

Barlow-3

Tim Briiton Backlock

Buck 110's

Buck 110 Damascus

Mammoth Ivory Barlow

More Photos

Categories


%d bloggers like this: