23
Sep
10

Mental Taktis


Beberapa waktu lalu seorang temen mengusulkan gua untuk belajar bela diri praktis jika ingin membawa pisau. Gak ada salahnya juga dengan usul seperti itu. Kalau ada waktu mau juga. Hitung2 olah raga.:)

Gua pernah muda, dan pernah mengalami saat2 di mana pisau2 tactikal adalah daya tarik utama dari dunia pisau. Bagaimanapun ada sedikit jiwa anak2 yang tertinggal di dalam jiwa kita meskipun kita udah makin bangkotan. Tapi seiring dengan waktu gua baru sadr bahwa yang penting bukanlah tactical toys-nya, melainkan tactical mentality atau kesiapan mental taktis lah yang lebih penting.

Kita bisa aja nggak perlu bawa pisau taktikal atau gak bawa senter taktikal, tapi mental kita seharusnya tetap taktis. Taktikal harusnya jadi sebagian dari gaya hidup, apalagi buat kita yang tinggal di kawasan perkotaan, di mana kita semua berpotensi untuk menjadi target kejahatan dengan berbagai modus operandinya. Belum lagi jika kita memerhitungkan faktor non-kriminal lain seperti bencana alam, kecelakaan, dll.

Memiliki mental taktis berarti memiliki kesiapan. Kita jarang terkejut dengan suatu kejadian. Dan kita jarang didapati mudah diberi kejutan karena kita selalu mampu mendeteksi ketidakberesan dan ketidakwajaran. Mental taktis adalah sesuatu yang perlu dilatih dan diasah terus. Gua sendiri akrab dengan konsep ini namun masih terus merasa harus memertajam insting taktikal gua sendiri. Masih jauh lah..

Hari2 ini gua gak lagi memasukkan pisau taktikal dalam rotasi EDC gua, dan kalau pun karena pertimbangan tertentu gua bawa pisau taktikal, maka pisau ini bukan satu2nya yang gua bawa. Gua pasti siapin pisau lain yang lebih bernuansa utilitarian untuk keperluan potong-memotong yang umum.

Banyak temen2 juga bawa senter, tapi alangkah baiknya juga memersiapkan baterai cadangan yang standby terus karena elu gak tahu seberapa sisa tenaga baterai yang ada dalam senter elu. Di samping itu gua sendiri masih bawa senter kecil sebagai keychain dan korek api. Gua masih pikiran backup jika senter utama kita gagal. Senter taktikal misalnya, gak akan maksimal manfaatnya jika penggunanya juga gak punya mental taktis. Banyak orang terpesona dengan senter taktikal-nya atau pisau taktikal-nya dan bukan kepada kesiapan mental taktikal dirinya sendiri. Pikirnya kalau ada pisau dan senter taktikal di bawaannya maka dia sudah tactical person. Dan yang lebih parah lagi, di Indonesia ini justru aparat penegak hukum lah yang biasanya gak punya mental taktis.

Banyak kejadian kritis yang seharusnya bisa dihindari atau diiminimalisasi kerusakannya jika saja kita atau malah aparat hukum semisal polisi punya mental taktis yang melekat. Sebut saja beberapa kasus seperti ketua DPRD Sumut yang tewas dipukuli demonstran padahal ada dalam kawalan polisi; perampokan bank oleh sekelompok orang bersenjata berat, penembakan markas polisi yang menewaskan anggota polisi; dan masih banyak cerita lainnya. Semuanya berawal dari rendahnya kesiapan mental aparat dalam menilai situasi kritis. Semuanya terjebak dalam aspek kejutan yang dilancarkan lawan.

Seorang jenderal besar pernah berkata: “Lu boleh aja kalah, tapi lu nggak boleh berhasil dikejutkan.”


3 Responses to “Mental Taktis”


  1. 1 Juan
    September 23, 2010 at 7:47 PM

    Hi Abang,

    Apakah tindakan 2 anggota polisi yang selamat saat markasnya diserbu bisa disebut mental taktis? yang satu langsung mematikan lampu ruangannya, sedangkan yang satu langsung mengunci pintu ruangan dan menunduk di bawah meja.

    Dalam konteks urban, mentak taktis mutlak diperlukan. Terlebih lagi jika tinggal di wilayah urban yang ‘rawan’ (bisa rawan bencana sambil rawan kriminalitas. Mungkin teman2 praktisi parkour adalah salah satu yang punya skill taktis (IMHO)

    cheers,
    JC

    • September 23, 2010 at 9:04 PM

      Mematikan lampu lumayan taktis bro. Tapi gua berharap di sana terjadi pertempuran sengit. Jangan lupa yang diserbu adalah pos polisi, bukan pos satpam. Harusnya para penyerbu merasa mendapat perlawanan setimpal dan bukannya malah di atas angin.

      Yah sekedar harapan aja….

  2. 3 ali
    September 23, 2010 at 6:23 PM

    Artikel yang Mantapss….

    Gw 100% setuju. mental taktis tidak hanya aparat penegak hukum atau orang yang kerja dengan potensi bahaya lebih tinngi aja. tapi di mana pun berada mental sepeti itu mutlak di perlukan. mental taktis membuat kerjaan menjadi lebih cepat. taktis biasanya sistematis ( menurut pikiran gw), karena langkah-langkah di lakukan yang paling optimal berdasar kondisi dilapangan dengan memperkecil segala kemungkina resiko yang timbul.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


September 2010
M T W T F S S
« Aug   Oct »
 12345
6789101112
13141516171819
20212223242526
27282930  

Enter your email address to subscribe to this blog and receive notifications of new posts by email.

Join 27 other followers

eye candy

Barlow-1

Barlow-2

Barlow-3

Tim Briiton Backlock

Buck 110's

Buck 110 Damascus

Mammoth Ivory Barlow

More Photos

Categories


%d bloggers like this: