Archive Page 2

07
Sep
10

Belajar dari luar sana

Hallo ketemu lagi…

Makin kita mengenal hobby kita yang satu ini semakin kita mulai selektif dalam membeli pisau yang kita inginkan. Kita mulai sibuk dengan materialnya, kita mulai sibuk cari review, kita mulai tanya2 apakah baja ini bagus atau nggak, dan sadar nggak sadar budget yang kita siapakan untuk membeli pisau juga semakin membengkak. Kita mulai melakukan perbandingan dan memerhitungkan banyak faktor.

Dan gua juga seneng banget menemukan beberapa temen mulai aktif di beberapa forum pisau di luar sana. Tinggal aktivitasnya aja yang kayaknya perlu ditambah selain juga mungkin bahasa seringkali jadi kendala. Mengingat bahasa Inggris gua juga nggak bagus2 amat, tapi yang penting berani aja selama nggak berkesan sok tahu. Yang harus diingat adalah perbedaan yang sangat jauh antara forum2 di luar sana dengan kaskus. Kaskus sangat kompleks, multi dimensi, riuh rendah, dan penuh anak kecilnya. Semua dibawa becanda di sana.

Forum2 di luar sangat spesifik dan punya kultur yang kental. Kita akan bisa merasakan sekali perbedaan2 spirit di setiap tempat yang berbeda. Tapi yang paling jelas dan kurang lebih sama adalah tingkat kedewasaan. Jauh sebelum gua kenal kaskus, di awal tahun 2000-an gua gabung di sebuah situs pisau yang namanya customknifedirectory dan knifeforum. Di sana pembicaraannya serius dan cerdas, dan kalaupun muncul becanda sifatnya dewasa banget karena memang juga jarang sekali ada remaja masuk ke sana mengingat urusan pisau adalah urusan umur di atas 18 tahun. Kebiasaan2 di situ membuat gua gak melihat forum diskusi sebagai tempat buang2 energi dan waktu untuk becanda. Dan satu lagi adalah forum2 di sana sangat ketat menerapkan peraturan. Kalau kita salah langsung ditegur dan kalau kita salah kamar langsung dipindah oleh moderatornya ke tempat yang lebih sesuai.

Ini kultur yang sangat berbeda dengan Indonesia yang bisa membuat peraturan bagus tapi nggak pernah bisa menegakkan peraturan. Kekacauan2 struktural yang seperti ini bisa jadi yang membuat kaskus gak pernah sepi dari problem teknis, meskipun tulisan ini nggak membicarakan kaskus secara spesifik. Kaskus sangat bersifat ABG dan sangat penuh dengan becanda, kalau boleh dibilang begitu. Banyaknya icon yang aneh2 dan dodol menunjukkan hal itu. Nggak salah juga sih, karena lain padang lain belalang. Tapi gua nggak percaya kalau hal2 yang sia2 itu nggak ada pengaruhnya terhadap performa kaskus secara keseluruhan.

Kembali ke forum2 di luar sana, gua lihat mereka sangat bersifat terbuka dan sportif. Berbagai perbedaan pendapat setajam apapun tetap berjalan dalam koridor diskusi dan gak pernah dibawa keluar dari jalur itu. Hampir gak ada yang hubungan pribadinya rusak karena berargumentasi hebat di internet. Mereka juga cepet kembali ke track awal begitu melihat gelagat sudah terjadi off topic. Sangat sedikit atau hampir nggak ada keinginan untuk menarik tema malah jadi jauh melenceng.

Mungkin ada orang akan bilang: “Biar aja mereka di sana begitu, kita di sini kan beda.” Atau kita bilang: “Jelek2 tapi tetep rumah sendiri.” Gak ada salahnya juga dengan pemikiran seperti itu, tapi kenapa juga kita gak berusaha ke arah yang lebih baik kalau arah itu bisa ditentukan oleh diri kita sendiri. Tulisan ini bisa dianggap sebagai oto-kritik alias kritik atas diri sendiri mengingat gua juga aktif di kaskus. Mudah2an bisa ditanggapi secara positif dan konstruktif.

Selamat Idul Fitri. Mohon maaf lahir bathin karena gua banyak salah kata dan perbuatan.

Advertisements
18
Aug
10

Pisau yang gua pilih waktu bepergian lama

Gile lama banget nggak nulis. Beberapa hari lalu gua pergi ke Balikpapan berdua Ben anak gua untuk menghadiri anak laki2 gua yang paling kecil, yang berulang tahun kedua saat dia lagi di rumah oma opanya.

Gua memerkirakan akan ada di sana selama lebih dari dua minggu. Untuk perjalanan selama ini gua rada kurang tenang kalau gua nggak bawa beberapa pisau sekedar untuk pegangan selama di tempat orang. Ada tiga pisau yang gua pilih, slipjoint Barlow buatan R.L. Smith; outdoor utility knife buatan Matt Bailey; dan tanto buatan Pohan Leu. Masing2 pisau gua bawa dengan alasan tersendiri. Barlow gua bawa untuk tujuan EDC, Matt Bailey gua bawa untuk jaga2 kalau ada yang ngajakin untuk berkegiatan di luar ruang, dan Pohan Leu tanto gua bawa untuk “if the shit hitting the fan” alias SHTF selama gua ada di tempat orang.

SHTF adalah sebuah konsep pemikiran sederhana di mana hal yang paling buruk bisa saja terjadi saat kita berada di tempat tertentu pada saat yang salah dan keadaan yang serba salah. Ini sebuah kondisi yang kita semua tidak pernah harapkan terjadi. Kadang kondisi ini lebih tertuju kepada pemikiran tentang kondisi darurat di mana pisau bisa jadi adalah pilihan terakhir sebagai sebuah alat yang dapat dipakai untuk memertahankan nyawa kita atau orang2 yang kita cintai. Kalau bisa memilih katana yang asli buatan master pedang dari Jepang akan sangat ideal, tapi kita juga tahu bahwa membawa pedang menghapus kesan self defense. Pedang lebih berkesan alat untuk perang. Sulit dibawa dan lebih sulit lagi menggunakannya.

Dua pisau pilihan pertama lebih gua pikirin karena pilihan pisau yang terakhir lebih kecil kemungkinannya terjadi. Pilihan atas pisau slipjoint lebih kepada pisau itu adalah pisau yang paling banyak gua pakai sementara pisaunya Matt Bailey memang lagi gua cari kesempatan untuk dipakai. Gua pengen lihat patina muncul di sana. Banyak orang gak siap punya pisau berbaja karbon dan rada terkejut melihat bercak yang timbul pada pisau berbaja karbon saat mulai kenal dipakai. Gua pribadi lebih melihatnya sebagai tanda karakter dan tanda dicintai. Ada banyak pisau bagus yang nggak terlalu memohon untuk dipakai, tapi ada banyak juga pisau bagus yang dari awalnya udah teriak2 minta dipakai.

Memang selalu saat blade pada pisau kita mulai ada lecetnya, maka akan ebih enak dan lebih ringan perasaan kita untuk menggunakan pisau itu lebih jauh lagi. Seorang penggemar flaslight/senter pernah bilang kalau dia punya senter baru dia akan jatuhin dulu minimal satu kali sampai ada bekasnya baru dia tenang memakai senter itu. Analogi ini berlaku juga buat pisau.

Ini adalah pendapat dan pengalaman pribadi. Penasaran juga sih pengen tahu pilihan dan alasan temen2 lain dalam kesempatan berbeda saat harus memilih pisau yang harus dibawa dalam suatu perjalanan.

06
Aug
10

Traditional folding knives

Kalau elu pernah bawa pisau sebagai EDC (everyday carry) dengan tujuan utility, maka elu akan pernah rasain gimana canggungnya mengeluarkan pisau dari tempat penyimpanannya lalu menggunakannya di depan orang banyak atau di tempat umum.

Kecanggungan ini sebenarnya pertama kali berangkat dari pandangan kita sendiri tentang pisau dan membawa pisau. Jika kita memandang pisau semata-mata sebagai alat yang meringankan banyak pekerjaan manusia maka kita akan lebih tenang menggunakannya. Gua sering ketemu orang yang berdebar-debar membawa pisau lipat kecil waktu mau masuk mall atau bandara.

Konsep2 pisau sebagai senjata taktis membuat pembawanya kadang risih sendiri atau malah ketakutan sendiri saat bakal ketahuan bahwa dia membawa sebuah pisau. Gua pribadi seringkali bawa pisau dari genre taktikal walalupun masih dalam ukuran yang “pantas”. Tapi biasanya itu bukan satu2nya pisau yang gua bawa sehingga kalau gua perlu untuk utility maka gua akan pilih pisau lain semisal Opinel atau slipjoint.

Selain pisau EDC yang “low profile”, maka cara kita mengeluarkan dan menggunakan pisau kita akan sangat menentukan bagaimana pandangan orang terhadap pisau yang kita bawa. Saat membuka Opinel atau slipjoint gua selalu membukanya di bawah meja atau dengan posisi rendah di bawah pinggang. Dan saat pisau akan gua pakai pun maka benda yang mau gua potong yang gua turunin dan bukan pisaunya yang naik, apalagi sampai sebatas dada.

Gua selalu menekankan bahwa kenikmatan membawa pisau bukanlah karena kita mengantongi pisau lipat custom seharga $800, tapi lebih kepada waktu kita bisa merasakan manfaat dari pisau itu sendiri saat kita gunakan. Gua cukup nyaman dengan pisau EDC gua saat ini karena praktis di badan gua nggak merasa sedang mengantongi sesuatu. Secara umum diakui bahwa kita kebanyakan hanya menggunakan porsi 2″ dari panjang bilah pisau kita, sehingga membawa pisau dengan bilah lebih panjang hampir merupakan sebuah pemborosan.

Ini pisau Case Select Tiny Texas Toothpick dengan panjang terlipat hanya 3″ dan panjang terbuka 5,5″. Bajanya ATS-34. Handlenya adalah Mediteranian Blue bone. Gak ada yang serem dari penampilan pisau ini. dan sesuai dengan namanya ukurannya pun memang sangat mungil. Lihatlah perbandingannya dengan kelingking gua. Istri gua langsung minta untuk dia bawa aja. Tapi gua juga tahu dia sering hilangin barang2 kecil makanya belum gua ijinkan bawa yang satu ini.

Gak akan ada orang takut lihat pisau ini dalam keadaan terlipat, dan dalam keadaan terbuka pun gak ada tampilan yang mengancam orang lain. Tidak ada bilah berwarna hitam dengan sedikit gerigi yang seram dan suara yang nyaring saat dia dibuka dengan satu tangan. Slipjoint ini harus dibuka dengan dua tangan dan pelan2. Kemarin sore gua ajarin anak laki2 gua untuk buka dan lipat pisau ini dengan aman. Ngajarinnya kebetulan bukan di rumah tapi di sebuah tempat minum kopi di sebuah mall. Gak ada orang yang perhatiin saking kecilnya pisau tersebut. Anak gua juga exciting banget belajarnya. Pisau non-locking seperti ini mengajarkan penggunanya untuk tetap bersikap low profile dan menggunakan pisau sejenis ini dengan bertanggung jawab.

Dengan benda ini hampir semua keperluan untuk memotong atau mengiris bisa dilakukan dengan baik. Apakah kita atau orang lain akan bersikap sama , jika yang kita keluarkan dari kantong adalah sebuah pisau lipat taktikal yang notabene sangat seram penampilannya. Ngomong2 ini adalah pisau yang luar biasa seksi dan sederhana ditambah baja premium ATS-34, what else you could ask for more. To hell with your tatical knives.

30
Jul
10

Pisau Militer

Tertarik juga untuk ikutan bahas mengenai pisau militer yang banyak dibicarakan di kaskus. Terus terang selama ini nggak terlalu minat dengan pisau yang secara khusus digunakan oleh pihak militer. Tapi sekedar memerluas wawasan apa salahnya juga.

Banyak orang yang suka dengan pisau militer berangkat dari satu asumsi yang salah, bahwa militer pasti banyak tahu tentang pisau karena itu adalah salah satu perlengkapan standar mereka. Secara mendasar bagi seorang tentara, pisau pertama-tama adalah alat dan kedua di saat terpaksa bisa juga menjadi senjata. Dan sama halnya dengan senjata api yang mereka miliki atau bawa saat bertempur adalah seperangkat peralatan yang memang secara resmi dikeluarkan oleh kesatuan masing-masing. Artinya tidak ada preferensi pribadi di sana.

Bahkan di negara besar seperti AS pun, pisau standar militer praktis belum mengalami perubahan sejak Perang Dunia II. Ini salah satunya disebabkan oleh dasar pemikiran bahwa pisau praktis tidak terlalu banyak menuntut perkembangan yang berarti dibanding senapan serbu atau peralatan lain semisal NVD, radio komunikasi, illumination tools, dll.

Di lain sisi berasumsi bahwa seorang tentara pasti mengetahui soal pisau juga adalah asumsi yang naif. Gak semua pengguna komputer adalah computer geek, atau gak semua pengemudi mobil adalah orang yang “gila” mobil. Sebagian besar dari mereka menganggap itu hanyalah alat atau perkakas yang diperlukan dalam memerlancar tugas2 mereka. Dan jangan lupa pisau yang bagus juga relatif masih mahal buat upah seorang tentara bahkan di negara maju sekali pun.

Banyak anggota militer lebih memilih kombinasi sebuah multitools ditambah dengan pisau yang dikeluarkan resmi oleh kesatuan mereka. Dan mereka gak terlalu peduli dengan kualitas yang mereka dapat dari pisau tersebut karena kalau rusak pun akan sangat mudah diberi gantinya dari gudang perbekalan. Dalam pasukan elit tertentu di mana kadang gengsi operatornya lebih besar, mereka rela aja merogoh uang dari kocek sendiri untuk membeli pisau2 yang mereka anggap bagus sesuai dengan kemampuan mereka.

Secara umum pisau2 yang dikeluarkan secara resmi oleh kesatuan2 militer biasanya adalah pisau2 berkualita rendah yang kadang memiliki kelengkapan2 yang nggak ada gunanya atau paling tidak berlebihan. Ide membuat pisau dengan hollow handle kelihatannya jenius dengan bisa memasukkan berbagai alat bantu ke dalamnya, tapi pada saat yang sama desain seperti ini justru memerlemah konstruksi pisau secara keseluruhan.

Memberi gerigi pada blade atau gergaji pada punggung pisau juga kelihatannya hebat, namun fitur ini justru membuat titik lemah di mana pisau justru patah pada area tersebut. Pisau militer lain juga menaruh lubang besar pada blade di mana lubang justru juga jadi titik lemah gagalnya sebuah pisau. Bagaimana pun simplenya pisau Kabar fighting knife masih jadi tolok ukur yang terbukti dan sangat masuk akal. Beberapa knifemaker di luar sana juga kadang tertarik untuk mendesain combat knife sesuai interpretasi mereka. Buat gua pribadi pisau militer yang didesain secara custom oleh knifemaker yang mungkin aja punya latar belakang combat akan lebih menarik ketimbang pisau militer standar yang dibagikan oleh kesatuannya.

Tolong ajarin lah kalau ada yang punya ide cemerlang soal ini.:)

15
Jul
10

Cerita Pisau Phillip Patton

Tulisan ini sama sekali bukan review. Cuma sekedar cerita tentang sebuah pisau.

Pisau ini dibuat oleh Phillip Patton dengan menempa D-2 dan hasil akhirnya ditetapkan pada 61 HRC. Panjang keseluruhan 8″, panjang blade 3 3/4″. Hollow ground. Handle terbuat dari Lignum Vitae dan  pinnya adalah Loveless style bolts. Sarungnya didesain untuk dibawa secara horizontal. Pisau ini didesain sebagai pisau berburu dan hanya akan mencapai penggunaan maksimal pada material daging dan bagian dari hasil buruan.

Pisau ini gua beli dari seorang temen di Blade Forums. Dia cerita dia terlalu banyak punya pisau dengan pattern hunter. Dia sayang karena pisau ini seharusnya dipakai tapi dia nggak pernah sempet pakai. Itu sebabnya dia jual pisau ini dalam kondisi tidak pernah dipakai.

Temen ini tinggal di Kanada. Namanya Roland. Dan setelah kita deal dengan harganya, dia harus nyetir puluhan mil masuk ke kawasan Amerika Serikat hanya untuk memudahkan sistem pengiriman yang katanya ribet banget di Kanada. Apagi kalau berhubungan dengan pisau. Dari cara kita ngobrol lewat PM bisa terasa kalau orang ini sudah nggak muda lagi. Bicaranya matang dan kata2nya dipilih.

Dan memang setiap kita lihat pisau yang bagus saat difoto maka hampir semua kenyataannya pisaunya jauh lebih indah saat dilihat langsung. The picture doesn ‘t do justice. Gua seneng pisau2 seukuran ini karena lebih besar kemungkinannya untuk bisa dipakai dan dinikmati manfaatnya. Makin besar sebuah pisau makin kecil kesempatan kita untuk menggunakan dan memanfaatkan pisau tersebut, dan makin kecil pula kenikmatan yang bisa kita peroleh dari menggunakannya.

Pisau ini tebalnya hanya sekitar 4,5mm di bagian yang paling tebal pada punggungnya. Gua benci pisau tebal. Makin tebal pisau makin gak bagus daya potongnya. Apalagi pisau ini didesain untuk memotong daging, jadi dia harus cukup tipis. Kalau dilihat desainnya sangat sederhana. Nggak ada yang nyeleneh apalagi heboh. Ukuran keseluruhannya juga pas dan ringan saat dipegang.

Dan salah satu fitur yang gua suka dari pisau full tang ada pada pisau ini, yaitu desain tang-nya yang makin menipis ke belakang (tapered tang). Ini teknik membangun balance yang bagus tapi rada sulit dalam eksekusinya. Pisau yang menerapkan desain tang seperti ini lebih terlihat indah dan terasa sekali bahwa, pembuatnya menyediakan waktu yang lebih banyak ketimbang membiarkan keseluruhan tang-nya sama tebal dengan punggung pisau.

Waktu melihat dan memegang pisau ini kita bisa tahu bahwa pembuatnya bukan hanya bisa membuat pisau tapi juga tahu membuat pisau. Pembuatan pisau bukan semata-mata hasil dari sebuah keahlian teknis tapi juga harusnya adalah cermin penguasaan pengetahuan tertentu. Phillip Patton dinobatkan oleh Knives Illustrated sebagai salah satu pembuat pisau yang pantas dipantau kehadirannya.

Melihat kualitas pembuatannya dan rekomendasi pihak lain terhadap Phillip Patton, gua segera kontak dia untuk menanyakan apakah dia menerima order untuk pesanan. Jawabannya rada mengejutkan karena dia akan segera memutuskan untuk berhenti menerima pesanan. Kalau memesan dari dia baru bisa dijawab setelah akhir bulan Juli ini. Dan waktu tunggunya adalah 2 tahun. Pupus sudah harapan untuk memesan salah satu karya Phillip Patton. Untungnya sesekali karyanya masih muncul di secondary market dengan harga yang cukup pantas.

Thank you Roland, for gave me a chance to own such a great knife!

11
Jul
10

Pasar yang semakin dewasa

Thanks banget buat perhatian temen2 yang tanyain kenapa gua mulai jarang nulis. Tapi gua juga akan berusaha terus untuk memberikan sesuatu buat temen yang minat banget dan pengen sama2 belajar tentang dunia pisau.

Gua perhatiin orang yang mulai kenal atau belajar pisau lebih banyak akan mulai memerhatikan peran baja yang digunakan dalam sebuah pisau. Kita akan mulai bikin semacam daftar kelayakan. Tapi perkembangan ini juga bisa bikin kita terjebak dalam pikiran bahwa baja adalah segalanya. Padahal baja seperti hal lainnya dalam sebuah materi produk adalah bahan mentah. Bahan mentah hanya akan menghasilkan produk yang bagus jika saja ditangani dengan semestinya. Dalam hal pisau artinya, sebuah pisau yang dibuat dari baja limbah per mobil yang diolah dengan baik akan lebih maksimal hasilnya dari pada sebuah pisau yang menggunakan baja bagus dan mahal semisal RWL-34.

Ini belum kalau elemen2 lain turut masuk bermain semisal desain pisau, desain blade, desain edge, handle material, finishing, dst. Jadi pisau yang ada di depan kita yang ada harganya tertera di situ merupakan representasi kompleks dari sebuah karya manusia. Kita bukan hanya melihat semata-mata pada sebuah benda A dengan harga X rupiah.

Banyak orang hanya mendasarkan pilihan pada “suka” (alasan subyektif) dan “harga” (alasan subyektif) Kalau diperhatikan kedua alasan tadi adalah sama persis yaitu atas dasar subyektivitas. Orang yang punya uang akan beli barangnya berapapun harganya kalau sudah suka. Dan kalau sudah begini orang jarang memerhitungkan alasan obyektif dalam menilai barang yang dia mau beli. Kalau hal ini kebetulan konkritnya adalah barang yang harganya murah gak akan masalah karena memang nilainya juga kecil. Tapi sangat disayangkan kalau barang yang dibeli harganya mahal.

Ini contoh konkritnya, pisau A menggunakan material (alasan obyektif) baja 440C dan handle materialnya menggunakan alumunium, harganya 100 dollar. Sementara pisau B menggunakan baja CPM S30V dengan handle material kombinasi antara titaniun dan G-10, harganya 125 dollar. Secara subyektif mungkin pisau A lebih kita sukai dari pada pisau B. Tapi kalau keseluruhan komponen kita perhitungkan maka pisau B jelas lebih layak rasio performa+harganya ketimbang pisau A. Kita sebenarnya dengan mudah bisa memutuskan bahwa pisau A mungkin saja pisau yang lebih indah atau lebih menarik perhatian kita tapi harganya jelasnya overpriced. Mungkin seharusnya pisau A lebih tepat jika berharga 60 dollar.

Ada banyak pisau yang overpriced saat ini beredar di pasaran. Kelebihan harga ini biasanya dibenarkan dengan berbagai alasan yang dipaksakan dengan jargon2 seperti: dibuat dengan jumlah sangat terbatas, edisi khusus, dibuat khusus untuk pasukan khusus militer tertentu, dibuat dengan masukan dari pasukan elite tertentu, dibuat khusus untuk keperluan militer dan polisi, didesain oleh seseorang yang berpengalaman sebagai operator taktikal selama puluhan tahun, dst. Jargon2 seperti ini memang sudah disiapkan secara spesifik untuk menjaring pasar tertentu. Sehingga bisa dipastikan akan ada saja orang yang mau membelinya meskipun dibanderol dengan angka yang lebih dari selayaknya.

Lepas dari alasan2 subyektif, gua tetep mendorong temen2 pecinta pisau untuk bisa memisahkan mana faktor2 subyektif yang biasanya banyak diberi imbuhan2 hype dan mana komponen2 yang secara obyektif bisa diteliti lebih terukur. Kalau nggak begitu kita hanya akan jadi korban dari para produsen yang sudah mengincar kita sebagai pasar potensial mereka. Dari situ kita bisa mengukur diri kita sendiri apakah kita sudah cukup dewasa dalam menekuni hobby kita ini atau belum.

02
Jul
10

It’s all about knowledge and taste

Hari ini baru aja ketemu seorang sahabat, terus ngebahas beberapa pisau yang terlihat di etalase forum. Kita berdua sampai pada kesimpulan yang sama. It’s not our taste.

Pisau sangat bersifat subyektif. Ada bagian2 yang bisa dianggap obyektif seperti kualitas baja dan keseluruhan kualitas pengerjaan. Namun pada akhirnya sebuah pisau hanya indah di mata orang yang menyukainya. Sebab itu gua juga gak pernah anggap enteng selera orang lain karena memang kita kadang menggunakan kacamata yang berbeda untuk memandang sesuatu.

Gua pribadi menemukan kenikmatan tersendiri kalau pisau yang gua suka bisa menunjukkan darma baktinya buat gua. Karena alasan itu gua bawa dan pake sebuah custom slipjoint dibanding slipjoint lain yang menggunakan 3 blade dan harganya 1/3 lebih murah.

Itu artinya kalau gua jadi orang yang banyak uang pun gua masih belum akan beli art knives yang harganya ribuan dollar. Beberapa teman menganalogikan pisau dengan istri. Dalam batas tertentu gua setuju. Dan kalau orang yang sudah beristri akan tahu, bahwa kenikmatan dan keintiman akan terasa kalau kita “pake” istri kita. Sayang banget kalau kenikmtannya kita dapet malah waktu kita cuma mengelus-elus istri sambil nonton tivi. Atau jangan2 ada yang menikmati istrinya dengan mengetahui istrinya masih perawan di simpan dalam lemari besi. Tapi tiap orang punya masing2.

Buat gua pribadi pisau yang berarti adalah pisau yang punya nilai utility. Punya nilai yang berguna kalau dipake. Buat gua pisau bukan investasi. Gua berusaha untuk cari kesempatan supaya pisau gua bisa dipakai dengan wajar dan berguna, baik buat diri gua sendiri maupun buat orang lain.

Harus diakui bahwa tiap orang akan melalui tahap yang berbeda dalam menekuni sebuah hobby. Tapi gua orang yang beranggapan bahwa sebuah hobby sebaiknya dimulai dari bawah. Dalam hal pisau orang harus merasakan dulu punya pisau jelek dan abal2, kemudian meningkat pada pisau yang lebih baik dan begitu seterusnya. Kan di mana2 juga begitu, bahwa yang alamiah seseorang mulai dari bodoh dulu baru jadi makin pinter. Orang mulai dari tidak tahu sampai jadi tahu. Orang yang belajar dari bawah akan lebih bisa menghargai sebuah karya dan orang yang membuat di belakangnya karena mereka bisa melihat bagaimana kemampuan dan ilmu seseorang meningkat terus.

Jadi menurut gua uang bukanlah kata kuncinya. Semua kembali kepada pengetahuan dan selera. Pengetahuan adalah faktor obyektifnya sementara selera adalah faktor subyektifnya.




October 2017
M T W T F S S
« Jun    
 1
2345678
9101112131415
16171819202122
23242526272829
3031  

Enter your email address to subscribe to this blog and receive notifications of new posts by email.

Join 27 other followers

eye candy

Categories